Tuesday, May 21, 2024
HomeUncategorizedKisah Penjaga Pintu Stasiun Pasar Senen, Bawa Koper 40 Kilogram, Jujur dan...

Kisah Penjaga Pintu Stasiun Pasar Senen, Bawa Koper 40 Kilogram, Jujur dan Tip

Jakarta – Seorang pria berkemeja merah terus menyaksikan keributan penumpang kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Sejak pukul 07.00 WIB pagi, Sabtu (6/4/2024), pihaknya siap bekerja membantu pemudik yang datang membawa banyak barang untuk membeli ikan. Menjelang H-4 Idul Fitri 2024, Khamid (52 tahun) masih lebih memilih bekerja sebagai porter atau kurir untuk mencari nafkah bagi orang yang dicintainya.

Dia adalah pengangkut mahjong ways 3 dengan nomor 001 selama 20 tahun. Angka tersebut menjadi tanda bahwa ia adalah yang tertua di posisinya.

Hari Idul Fitri mendatang sangat menarik bagi Khamid karena jumlah jamaah haji meningkat. Dengan bekerja 12 jam, Khamid tetap bisa menambah penghasilannya saat libur, meski penghasilannya tidak seberapa.

Khamid mengatakan rata-rata bisa membantu mengangkut penumpang lebih berat hingga 40 kilogram. Bisa digendong di bahu atau diseret jika traveller membawa tas.

Tak jarang kita melihat wisatawan membawa barang-barang khusus seperti nasi dan sayur-sayuran. “Makanan yang biasa (satu) muatan (penumpang) adalah nasi dan sayur mayur yang dipikul si pembawa,” kata Khamid saat diterima di Stasiun Pasar Senen, Sabtu (6/4/2024).

Khamid bekerja dengan jujur, mau membantu atau tidak, itu terserah pelanggan. Biasanya untuk travel mendapat angka Rp 20-30.000.

Khamid mengatakan, “Sumbangan tersebut berdasarkan jumlah yang disarankan oleh musafir, kami tidak memberikan harga tetap, terserah musafir untuk memutuskan berapa banyak yang ingin mereka berikan.” Sementara itu, porter lainnya bernama R. Basuki (54) sudah puluhan tahun mengenakan seragam merah bertuliskan “Pasar Senen Porter” di bagian belakang. Ia segera menghampiri setiap bus yang sampai di stasiun KA Pasar Senen. “Mau kemana gan? Ayo kami bantu membawanya,” ajak Basuki pada seseorang yang baru saja turun dari mobil. Tetaplah kuat

Ajakan itu terkadang hilang ketika musafir menggeleng tak mau memberikannya. Basuki hanya bisa diam dan menunggu penumpang lainnya. Setiap hari, dia menunggu dengan sabar. Meski bertubuh kecil, ia selalu siap mengantar penumpang ke stasiun kereta. Basuki yang bertubuh mungil ini tak bisa dianggap enteng karena mampu mengangkat empat tas sekaligus.

“Satu tas disandang di bahu, dua lagi bisa digendong, koper digendong di tangan kiri,” jelas Basuki. Basuki selalu antusias menunggu waktu tiba karena bisa mendapatkan uang lebih banyak. Meski lebih aktif saat mudik seperti ini, ia mengaku pendapatannya meningkat namun tidak banyak. “Itu berhasil, tapi tidak semua orang membutuhkannya.” Dan kalau dibilang naik, biasanya antara Rp 100 sampai 200 ribu, tapi sekarang bisa Rp 300, ”ujarnya. Di antara ribuan pemudik yang didekatinya, tidak semuanya bersedia menggunakan jasa penjaga gerbang. Untuk sekali perjalanan, Basuki mendapat penghasilan antara Rp 20 hingga 30.000. “Biasanya saya kasih Rp 30.000 dulu. Kadang masih ada yang nego Rp 20.000, jadi saya terima. “Wisatawan juga mempunyai sarana pembiayaan yang berbeda-beda,” jelas Basuki.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments